Jenis Tembang Macapat

Tembang macapat atau tembang cilik atau juga disebut sebagai sekar Alit terdiri dari 11 jenis tembang yang akan kita bahas selengkapnya disini.

Jika dilihat dari asal – usul bahasanya, maka macapat diartikan sebagai maca papat – papat atau dibaca empat – empat.

Yakni tembang yang dilantunkan menggunakan cara dipenggal tiap 4 suku kata pada masing – masing baris.

Rangkaian nada tembang itu merupakan Titi Laras dari nada gamelan Slendro maupun Pelog.

Bagian dari karya yang ditulis ke dalam wujud sekar macapat tertentu disebut sebagai pupuh yang setara dengan bab di dalam sebuah buku.

Ada pun pola penulisan syair macapat atau Sekar Alit yang diatur berdasarkan Guru yang terdiri atas 3 Guru, antara lain:

  • Guru Gatra: Jumlah baris pada masing – masing bait.
  • Guru Wilangan: Jumlah suku kata pada masing – masing baris.
  • Guru Lagu: Bunyi huruf hidup di akhir suku kata pada masing – masing baris.

Nah, untuk jenis dari tembang macapat itu sendiri diantaranya ialah sebagai berikut:

1. Mijil

Arinya lahir.

Awal dari kehidupan manusia atas kehendak dari yang maha kuasa si jabang bayi lahir ke dunia selepas 9 bulan 10 hari lamanya di dalam alam kandungan sang ibu.

2. Maskumbang

Merupakan masa pertumbuhan dari jabang bayi yang sudah menjadi buah hati serta harapan dari ayah ibu yang berbahagia.

3. Kinanti

Merupakan masa rawat serta jaga kedua orang tua dari jabang bayi si buah hati yang merah merekah ke arah masa anak – anak yang ceria.

4. Sinom

Merupakan akronim dari kata isih enom yang jika di translate jawa berarti masih muda.

Di mana masa remaja dari coba yang kerap kali membuat orang tua gelisah sebab sering salah pada saat menentukan langkah.

5. Dhandanggula

urutan tembang macapat

Merupakan masa remaja yang berkembang ke arah dewasa.

Masa disini penuh akan rasa ingin tahu, ingin mencoba apa yang belum sempat dicoba.

Rasa ingin tahu juga sangat menggebu, imajinasi menggoda dapat membuat mereka tidak peduli dengan norma agama, budaya, serta nasehat orang tua.

6. Asmarandana

Asmara dahana atau api asmara merupakan masa dimana api asmara membakar dada.

Hidup semakin terasa sebab adanya getar asmara yang membakar semangat hidup. Bahaya jika sampai terlena.

7. Gambuh

Akronim dari gampang nambuh.

Merupakan waktu di mana manusia sedang bersikap acuh kepada sesama. Mudah sekali angkuh sebab merasa telah menjadi manusia yang ampuh.

Dalam masa ini manusia sulit untuk mawas diri serta senantiasa merasa diri terlalu tinggi.

8. Durma

Merupakan akronim dari munduring tata karma.

Terbelakangnya dari tata karma, sopan santun serta saling hormat kepada sesama yang hilang.

9. Pangkur

Pada saat usia masuk ke masa senja manusia menoleh ke waktu belakang (mungkur), melihat masa lalu.

Terdapat penyesalan, tetapi terlambat untuk koreksi diri.

Sekarang hanya tinggal menyesali diri pada usia yang telah renta serta bau tanah.

10. Megatruh

Megat ruh berarti putus nyawa dari raga.

Lepasnya jawa dari raga serta waktunya dapat secara tiba – tiba tanpa kompromi.

Pada waktu ini, penyesalan sudah tidal lagi berguna.

11. Pocung

Pocung atau pocong merupakan orang mati yang dibungkus kain kafan.

Inilah batas kehidupan dunia yang berantakan bersama kehidupan abadi.

Setiap tembang memiliki watak & format penulisan yang berbeda, urutannya (didasari nama tembang) juga menggambarkan perjalanan hidup manusia yang dikenal sebagai ‘Sangkan Paraning Dumadi.