Mengenal 10 Jenis Upacara Betawi Dengan Lengkap

Salah satu budaya yang hidup di Pulau Jawa adalah adat dari Betawi. Masyarakat Betawi sendiri memiliki beberapa upacara adat yang unik dan khas berbeda dengan yang lain.

Berikut ini adalah jenis upacara Betawi yang patut untuk dipelajari.

Upacara Betawi Lengkap dengan Penjelasannya

1. Upacara Adat Perkawinan

Upacara Adat Perkawinan

Umumnya, masyarakat Betawi melakukan pernikahan dengan kerabat yang masih punya hubungan keluarga. Sebab, apabila mereka kawin dengan orang luar, diyakini bisa mendatangkan malapetaka.

Untuk mulai melaksanakan pernikahan ini, kedua calon mempelai akan dikenalkan. Apabila keduanya merasa cocok, maka orang tua dari pihak laki-laki akan datang melamar ke orang tua pihak perempuan.

Apabila kedua keluarga merestui, maka waktu untuk menghantarkan uang kawin dan perbelanjaan akan ditentukan. Umumnya, penghantaran ini akan diwakilkan kepada kerabat kedua keluarga.

Upacara penikahan dilakukan pada hari yang sudah disepakati. Jika akad sudah selesei, maka si pemuda akan kembali kepada orang tuanya, sama halnya juga dengan si gadis.

2. Upacara Adat Palang Pintu Perkawinan

Upacara Adat Palang Pintu Perkawinan

Saat upacara besanan dilangsungkan, maka pengantin laki-laki akan diiring-iringi ke rumah mempelai perempuan. Dalam upacara ini, dirangkai juga dengan upacara irama pantun, dengan iringan rebana dan lagu marhaban.

Yang seru dari upacara adat Palang Pintu ini adalah selalu disuguhkan adegan adu silat. Prosesi ini, juga diiringi barisan kerabat yang membawa roti buaya, jajanan khas, pakaian adat Betawi, uang, dan sayur mayur.

Setelah itulah, pengantin laki-laki baru boleh masuk rumah dan duduk bersanding dengan pengantin perempuan. Setelah acara ini, pengantin wanita Betawi baru boleh ikut suaminya.

3. Upacara Masa Kehamilan

Upacara Masa Kehamilan

Tradisi dari suku Betawi ini dikenal dengan istilah Upacara Nujuh Bulanan. Umumnya, ritual kehamilan ini dilakukan sebagai bentuk syukur dan memohon supaya mendapat keberkahan dari Tuhan yang Maha Esa. Selain itu juga, lewat upacara ini diharapkan agar kelak bayinya lahir dengan lancar dan selamat.

Acara ini biasa dilaksanakan berdasarkan hitugan bulan Arab, dengan patokan bilangan tujuh, yakni bulan ke-7 kehamilan. Adapun tanggalnya sendiri, ditentukan apakah tanggal 7, 17, atau 27. Kegiatan ini diadakan pagi hari, dan hanya dilangsungkan saat mengandung anak pertama saja.

4. Upacara Sekitar Kelahiran

Upacara Sekitar Kelahiran

Dalam menyambut kelahiran seorang bayi, warga Betawi biasa mengadakan Upacara Kerik Tangan. Maksud kegiatan ini adalah sebagai bentuk serah terima seorang bayi dan ibunya kepada keluarga, supaya bayi tersebut dirawat dan dibesarkan dengan baik.

Dukun yang mengurusi persalinan, akan mengerik tangan ibu yang melahirkan tersebut dengan uang koin, yang diambil dari dalam air. Saat itu, dibacakan pula shalawat Nabi sebanyak tujuh kali.

Sesudah upacara pengerikan tangan selesei, maka akan dikeringkan dengan handuk dan dibedaki. Tradisi ini ditutup dengan acara makan bersama.

Saat Dukun beranak hendak pulang, ia cukup diantarkan sampak ke halaman rumah saja, sambil diberi sesajian, yang diisi sajen nujuh bulan dan uang kebobok.

Upacara adat semacam ini memang lazim dilakukan, bukan hanya di Betawi saja, tapi juga dalam di daerah lainnya. Kamu pun bisa menemukan ulasan menarik tentang budaya unik di Indonesia, seperti halnya Tari Pendet berikut ini.

5. Upacara Sunatan

Upacara Sunatan

Anak laki-laki yang beranjak dewasa, wajib dikhitan alat kelaminnya. Biasanya, anak tersebut dinamakan pengantin sunat. Upacara Sunatan sendiri, terdiri dari 3 susunan acara, yakni arak-arakan, sunatan, dan selamatan.

Pengantin sunat akan lebih dulu diarak berkeliling kampung, yang ditandu atau mengendari kuda sambil diiringi musik rebana atau pencak silat. Kegiatan arak-arakan ini dilaksanakan pada sore hari.

Lalu, besok paginya barulah anak itu disunat, dengan dimandikan dan di rendam air terlebih dahulu beberapa saat. Sebagai penutup, anak tersebut akan dido’akan dalam acara selamatan.

6. Upacara Sedekah Laut

Upacara Sedekah Laut

Sebagai bentuk persembahan untuk penguasa laut, masyarakat Betawi biasanya juga melakukan Upacara Sedekah Laut. Tradisi ini bertujuan supaya para nelayan tidak mengalami gangguan saat mencari ikan.

Selain itu, ritual ini juga dimaksudkan supaya para pelaut juga pulang membawa hasil tangkapan ikan yang baik dan melimpah.

7. Upacara Sero

Upacara Sero

Upacara Sero adalah kegiatan saat ingin membuat alat tangkap ikan yang baru, yang biasa disebut dengan istilah sero. Acara ini dimaksudkan supaya alat tersebut bisa membawa keberuntungan untuk para pelaut, dengan hasil tangkapan yang melimpah.

8. Upacara Melepas Perahu Baru

Upacara Melepas Perahu Baru

Pada saat orang Betawi selesei membuat kapal baru, maka akan diadakan upacara yang isinya pemberian do’a. Hal ini bertujuan supaya kapal tersebut kuat dan awet, selain juga agar membawa rejeki dan tidak mendapat gangguan dari makhluk jahat dari laut.

9. Upacara Waktu Bertani

Upacara Waktu Bertani

Bagi masyarakat Betawi yang akan memulai kegiatan bersawah, dari menanam, menuai, hingga menyimpan hasil buminya di lumbung akan melakukan upacara khusus. Hal ini dimaksudkan agar mendapatkan keberkahan serta keselamatan selama bertani.

10. Upacara Kematian

Upacara Kematian

Upacara kematian dalam adat Betawi, disesuaikan dengan tata cara penanganan jenazah dalam ajaran Islam. Awalnya, jenazah akan dimandikan, dikafani, dan dishalatkan. Barulah setelah itu, jenazah ini dibawa ke makam dan dikuburkan oleh para pria.

Sementara, para perempuan tetap di rumah, sembari mempersiapkan sedekah untuk acara tahlilan. Kegiatan tahlilan ini diadakan pada malam ke-1 hingga ke-7 setelah kematian, serta pada malam ke-40 nya juga.

***

Demikianlah informasi tentang upacara Betawi, yang umumnya didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam. Smeoga artikel ini bermanfaat dan memberikan pengetahuan yang baik untuk kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *